Dear Grand bututku..
Lama tak bersua kau nampak semakin renta tak bertenaga, dari guratan-guratan bodymu aku tau kau kini jarang dimanja, tak ada lagi tangan kurus yang lembut membelai sekujur tubuhmu di pagi hari dengan kanebo basah, tak ada lagi rutinitas perawatan ringan untukmu meski hanya setel klep dan karburator.
Bahkan sepeninggalku, kabarnya kau sempat melakukan beberapa kali operasi, pistonmu kini telah oversize 50, meski tak ada peningkatan yang signifikan terhadap output tenagamu, karena secara teori semakin besar dimensi ruang bakar pada sebuah motor bakar, maka seharusnya semakin besar pula output tenaga yang dihasikan. Namun kenyataanya, kau masih tetap saja loyo, tapi ku yakin pistonmu di over size bukan karena orang rumah mencoba menerapkan teori diatas untuk meningkatkan output tenagamu seperti yang dilakukan anak-anak muda yang lagi kegandrungan road race, over size tersebut dilakukan lebih dikarenakan ada kerusakan pada ruang bakarmu, entah itu piston ataupun silindernya, yang mungkin dikarenakan perawatan / pemakaian yang tidak standar (sembarangan). Namun hal ini bukan berarti aku menyalahkan orang rumah (keluargaku ;red) sama sekali tidak, karena aku tau, semua ada teknik dan ilmunya, termasuk dalam merawatmu, dan ku yakin mereka kurang paham tentang bagaimana memperlakukanmu dengan baik dan benar, karena bagaimanapun juga kau kini sudah tidak lagi muda, hampir 15 tahun kau telah melihat dunia.. grand bututku..
Kulihat busimu juga sudah tidak lagi standar, dan parahnya lagi, si mekanik yang mengoperasimu dulu, bukanya memberimu busi-busi model baru, malah memberimu busi motor 90′an dengan drat ulir besar yang kini sudah jarang di pasaran, ck..ck..ck..malang nian nasibmu.. grand bututku..
Melihatmu teronggok di pojokan, kau nampak tak karuan, bentukmu yang kini tak lagi ayu, bahkan sepintas kulihat kau nampak seperti cempe gembel kecemplung paceran (anak kambing gibas yang tercebur di got), kecil, hitam, kotor, kumal, dan wagu. Lebih parah lagi ketika kunyalakan mesinmu, knalpotmu yang sedikit mbrebet dan sesekali terbatuk seperti orang tua yang kena bengek saja, mungkin ada yang salah dengan setelan karburatormu, juga suara ngitik dari kedua klepmu yang hampir mirip dengan suara jangkrik yang mau kawin, ck..ck..ck..
Saatnya kita melakukan perubahan grand bututku.. Alhamdulilah akhirnya liburan lebaran kali ini pun kumanfaatkan sebaik mungkin untuk merawat dirimu.. Ku service, ku lucuti seluruh pakaianmu dan ku spooring seluruh body dan rangkamu, ku setel kedua pelekmu, ku papras busa dan kuganti kulit jokmu yang dulu lebih mirip roti buaya, ku ganti spakbor belakangmu yang patah dan bikin berisik kalau kau sedang ku kendarai, ku pasang 2 baut porstep baru yang telah hilang entah kemana, kuganti lampu depanmu yang tlah mati dengan lampu halogen, ku ganti kaca riting depanmu yang beda warna dan tak sedap dipandang mata, kuganti kampas rem belakangmu yang menjerit-jerit jika ku injak untuk mengerem, kupotong beberapa ulir per sockbeker depanmu agak kau nampak sedikit ceper, ku skotlet hitam seluruh body mu, finally.. meski kau masih tampak wagu, setidaknya tidak terlalu ngisin-ngisini..(memalukan)
bahkan jika dibandingkan dengan teman-teman sebayamu kau masih nampak anggun dan elegant, setidaknya itu penilaianku.
Grand bututku.. sebenarnya masih banyak yang ingin ku modif pada dirimu, ku ingin rem tromol depanmu kuganti dengan rem cakram dengan piringan yang agak lebar, ku ganti kedua pelek mu dengan pelek racing atau pelek rossi aluminium yang lebar, yang dipadukan dengan ban luar yang berukuran sedikit lebih kecil dan tidak terlalu tebal, ku cat ulang seluruh body dan rangkamu, kumajukan roda belakangmu beberapa inchi kedepan, kuganti knalpotmu, wuah..pastinya kau akan tampak sedikit garang.. tapi entahlah, akankah itu semua dapat kurealisasi.. setidaknya belum untuk saat ini.. mungkin nanti, saat ku punya cukup waktu dan rejeki..
Grand bututku, perlu kau tau… aku bukanlah tipe orang yang mudah melupakan jasa-jasa seseorang, meski ku tau kau tak masuk dalam kategori seseorang, karena kau hanyalah benda mati. Namun kucoba untuk belajar berbuat adil pada semuanya, termasuk dirimu, aku masih ingat jasa-jasamu, itulah kenapa ku mencoba menuliskan sekelumit catatan hidupmu bersamaku diblog ini. Kau yang selalu menemani setiap langkahku saat ku masih kuliah dulu, pahit getir telah kita lalui bersama… preet..
setaun lebih kita berpisah dan hanya sesekali saja kita bertemu saat ku rindu kampung halaman, kini akhirnya kita bisa bersama lagi, maaf kalau dulu mungkin aku sedikit pelit padamu, oli mesin saja kadang kuberikan yang literan karena harganya jauh lebih murah dibanding yang kemasan, service pun jarang kulakukan, semoga sekarang tidak lagi. Grand bututku… sekali waktu, mungkin akan kuajak kau menyusuri ramainya jalanan ibukota, ya.. ibukota negara kita.. jakarta bukan hanya ibukota jawa tengah (semarang ;red).. semoga.. saat ku punya cukup waktu & kesempatan.. berdoa saja, andai kau bisa.. hahaha..
Grand bututku… tenang saja.. setidaknya untuk saat ini aku tidak berniat untuk mengganti dirimu dengan yang lain, meski ku tau kini kau telah kehilangan pamormu.. mungkin kau juga pernah berjaya di era akhir 90′an, namun kini, kau hanya seonggok besi tua yang terkadang hanya dipandang sebelah mata, tapi percayalah tak ada yang abadi di dunia ini, semua yang kini tengah berjaya.. lambat laun akan meredup dan usang dimakan usia, seperti yang kau alami sekarang ini, dan percayalah sekali lagi bahwa aku masih setia terhadapmu, belum terbersit dalam benakku untuk mengganti dirimu dengan yang lain, setidaknya untuk saat ini, entah suatu hari..
Majenang, sept ’09
Filed under: Catatan, Lain-lain, Seni Kehidupan | Ditandai: Catatan | 4 Komentar »